Tren Stunting
Data tahunan Kabupaten Sigi · Sumber: Dinkes Kab. Sigi
Peringkat Wilayah Antar Tahun
Posisi tiap wilayah dari tahun ke tahun · peringkat 1 = kondisi terbaik
Arahkan kursor ke sebuah garis untuk menyorotnya. Garis yang naik ke atas berarti kondisinya membaik.
Tabel Data Tahunan
| TAHUN | NILAI | PERUBAHAN | SUMBER |
|---|---|---|---|
| 2026 | 11.33 % | — | Dinkes Kab. Sigi — Status Gizi Juni 2026 |
| 2024 | 13.40 % | -16.90 | Dinkes Kab. Sigi |
| 2023 | 15.80 % | -3.00 | Dinkes Kab. Sigi |
| 2022 | 19.09 % | +2.39 | Dinkes Kab. Sigi |
| 2021 | 16.70 % | -2.39 | Dinkes Kab. Sigi |
| 2020 | 18.80 % | +3.00 | Dinkes Kab. Sigi |
| 2019 | 30.30 % | +16.90 | Dinkes Kab. Sigi |
Rincian per Wilayah
Sebaran Stunting antar wilayah
Klik nama wilayah untuk melihat sebaran desa/kelurahan di dalamnya.
Faktor Risiko (Literatur)
15 faktor dari penelitian
Faktor di bawah berasal dari penelitian ilmiah tingkat provinsi dan nasional.
Pola makan ibu hamil yang tidak memenuhi kebutuhan gizi menyebabkan bayi lahir dengan kondisi stunting.
Sanitasi buruk meningkatkan risiko infeksi berulang yang menghambat penyerapan nutrisi pada balita.
Keberadaan posyandu aktif terbukti membantu pemantauan tumbuh kembang anak dan menurunkan angka stunting.
Faktor risiko terkuat di Sulawesi Tengah. Ibu bertinggi badan <145 cm berpeluang 2,98 kali lebih besar memiliki anak stunting. Mencerminkan status gizi jangka panjang lintas generasi, sehingga intervensi perlu dimulai sejak masa remaja putri.
Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
Buka sumberPersalinan di rumah berpeluang 2,73 kali, dan di puskesmas/pustu/poskesdes 2,23 kali lebih berisiko stunting dibanding rumah sakit. Berkaitan dengan kelengkapan perawatan ibu dan bayi saat dan setelah melahirkan.
Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
Buka sumberBalita usia 24–59 bulan berpeluang 2,87 kali dan usia 12–23 bulan 2,72 kali lebih berisiko dibanding usia 0–11 bulan. Status gizi banyak menurun setelah usia enam bulan, saat ASI eksklusif berakhir dan MPASI dimulai.
Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
Buka sumberBalita tanpa buku Kesehatan Ibu dan Anak berpeluang 1,59 kali lebih berisiko stunting. Buku KIA menjadi sarana pemantauan tumbuh kembang dan deteksi dini secara mandiri oleh keluarga.
Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
Buka sumberIbu yang tidak membiasakan CTPS berpeluang 1,38 kali lebih besar memiliki anak stunting. Tangan yang tidak bersih menjadi jalur masuk patogen saat menyiapkan makanan dan menyuapi anak.
Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
Buka sumberAkses sangat sulit ke puskesmas berkaitan dengan risiko 1,47 kali lebih tinggi. Relevan bagi Sigi yang berkondisi geografis pegunungan dengan sebagian dusun sulit dijangkau.
Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
Buka sumberPendidikan ayah maupun ibu di bawah SMA berkaitan dengan risiko stunting lebih tinggi (masing-masing 1,37 dan 1,32 kali). Pendidikan ibu berhubungan dengan pengetahuan gizi dan pemanfaatan layanan kesehatan.
Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
Buka sumberSalah satu dari empat faktor yang paling banyak teridentifikasi dan dapat diintervensi dalam tinjauan 12 penelitian di Indonesia. Berkaitan erat dengan status gizi ibu selama kehamilan.
Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.
Buka sumberTermasuk faktor risiko yang dapat diintervensi. Pemberian ASI eksklusif enam bulan bersifat protektif terhadap stunting, khususnya pada keluarga berpendapatan rendah.
Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.
Buka sumberPemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu, jumlah, atau mutunya menjadi faktor risiko yang dapat diperbaiki melalui edukasi keluarga.
Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.
Buka sumberInfeksi berulang seperti diare dan ISPA menghambat penyerapan gizi. Termasuk faktor yang dapat diintervensi melalui perbaikan sanitasi, air bersih, dan imunisasi lengkap.
Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.
Buka sumberSalah satu variabel yang paling banyak muncul dalam penelitian di Indonesia. Rumah tangga miskin sulit memenuhi asupan gizi yang memadai secara berkelanjutan.
Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.
Buka sumber- Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
- Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.
Sentimen Masyarakat
Dari 0 tanggapan