Kembali ke Satu Data Sigi

Stunting

Persentase balita yang mengalami stunting (pendek/sangat pendek) di Kabupaten Sigi.

0 %
Data 2026

Tren Stunting

Data tahunan Kabupaten Sigi · Sumber: Dinkes Kab. Sigi

Menurun 2026
Nilai Terkini
0 %
-2.07 dari 2024
Nilai Terendah
0 %
Tahun 2026
Nilai Tertinggi
0 %
Tahun 2019
Perubahan Total
0 %
2019 → 2026
Angka Stunting
Titik tertinggi
Titik terendah

Peringkat Wilayah Antar Tahun

Posisi tiap wilayah dari tahun ke tahun · peringkat 1 = kondisi terbaik

19 wilayah

Arahkan kursor ke sebuah garis untuk menyorotnya. Garis yang naik ke atas berarti kondisinya membaik.

Naik terbanyak: Kulawi (15 peringkat, 2019→2026)
Turun terbanyak: Nokilalaki (16 peringkat, 2019→2026)

Tabel Data Tahunan

TAHUN NILAI PERUBAHAN SUMBER
2026 11.33 % Dinkes Kab. Sigi — Status Gizi Juni 2026
2024 13.40 % -16.90 Dinkes Kab. Sigi
2023 15.80 % -3.00 Dinkes Kab. Sigi
2022 19.09 % +2.39 Dinkes Kab. Sigi
2021 16.70 % -2.39 Dinkes Kab. Sigi
2020 18.80 % +3.00 Dinkes Kab. Sigi
2019 30.30 % +16.90 Dinkes Kab. Sigi

Rincian per Wilayah

Sebaran Stunting antar wilayah

19 wilayah

Klik nama wilayah untuk melihat sebaran desa/kelurahan di dalamnya.

Nokilalaki
100%
1 dari 1 balita (sampel kecil, angka kurang representatif)
Dombu
44.68%
21 dari 47 balita
Banasu
30.77%
8 dari 26 balita (sampel kecil, angka kurang representatif)
Dolo
25.9%
115 dari 444 balita
Marawola
21.77%
162 dari 744 balita
Kamapura
21.44%
101 dari 471 balita
Banpres
21.41%
76 dari 355 balita
Kinovaro
19.18%
80 dari 417 balita
Towulu
15.45%
19 dari 123 balita
Lindu
14.19%
65 dari 458 balita
Kantewu
11.55%
35 dari 303 balita
Kaleke
10.47%
84 dari 802 balita
Gimpi
9.73%
62 dari 637 balita
Tinggede
8.8%
65 dari 739 balita
Biromaru
8.21%
96 dari 1170 balita
Baluase
6.44%
82 dari 1274 balita
Pandere
4.73%
37 dari 783 balita
Kulawi
3.83%
15 dari 392 balita
Palolo
3.67%
40 dari 1091 balita
Sumber: Dinkes Kab. Sigi — Status Gizi Juni 2026

Faktor Risiko (Literatur)

15 faktor dari penelitian

Faktor di bawah berasal dari penelitian ilmiah tingkat provinsi dan nasional.

Kurangnya asupan gizi ibu hamil

Pola makan ibu hamil yang tidak memenuhi kebutuhan gizi menyebabkan bayi lahir dengan kondisi stunting.

Rendahnya akses air bersih dan sanitasi

Sanitasi buruk meningkatkan risiko infeksi berulang yang menghambat penyerapan nutrisi pada balita.

Program posyandu aktif

Keberadaan posyandu aktif terbukti membantu pemantauan tumbuh kembang anak dan menurunkan angka stunting.

Tinggi badan ibu di bawah 145 cm

Faktor risiko terkuat di Sulawesi Tengah. Ibu bertinggi badan <145 cm berpeluang 2,98 kali lebih besar memiliki anak stunting. Mencerminkan status gizi jangka panjang lintas generasi, sehingga intervensi perlu dimulai sejak masa remaja putri.

Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).

Buka sumber
Persalinan di luar fasilitas rumah sakit

Persalinan di rumah berpeluang 2,73 kali, dan di puskesmas/pustu/poskesdes 2,23 kali lebih berisiko stunting dibanding rumah sakit. Berkaitan dengan kelengkapan perawatan ibu dan bayi saat dan setelah melahirkan.

Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).

Buka sumber
Balita berusia di atas satu tahun

Balita usia 24–59 bulan berpeluang 2,87 kali dan usia 12–23 bulan 2,72 kali lebih berisiko dibanding usia 0–11 bulan. Status gizi banyak menurun setelah usia enam bulan, saat ASI eksklusif berakhir dan MPASI dimulai.

Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).

Buka sumber
Tidak memiliki buku KIA

Balita tanpa buku Kesehatan Ibu dan Anak berpeluang 1,59 kali lebih berisiko stunting. Buku KIA menjadi sarana pemantauan tumbuh kembang dan deteksi dini secara mandiri oleh keluarga.

Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).

Buka sumber
Ibu tidak melakukan cuci tangan pakai sabun

Ibu yang tidak membiasakan CTPS berpeluang 1,38 kali lebih besar memiliki anak stunting. Tangan yang tidak bersih menjadi jalur masuk patogen saat menyiapkan makanan dan menyuapi anak.

Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).

Buka sumber
Akses sulit ke fasilitas kesehatan

Akses sangat sulit ke puskesmas berkaitan dengan risiko 1,47 kali lebih tinggi. Relevan bagi Sigi yang berkondisi geografis pegunungan dengan sebagian dusun sulit dijangkau.

Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).

Buka sumber
Pendidikan orang tua di bawah SMA

Pendidikan ayah maupun ibu di bawah SMA berkaitan dengan risiko stunting lebih tinggi (masing-masing 1,37 dan 1,32 kali). Pendidikan ibu berhubungan dengan pengetahuan gizi dan pemanfaatan layanan kesehatan.

Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).

Buka sumber
Berat badan lahir rendah (BBLR)

Salah satu dari empat faktor yang paling banyak teridentifikasi dan dapat diintervensi dalam tinjauan 12 penelitian di Indonesia. Berkaitan erat dengan status gizi ibu selama kehamilan.

Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.

Buka sumber
ASI eksklusif tidak diberikan

Termasuk faktor risiko yang dapat diintervensi. Pemberian ASI eksklusif enam bulan bersifat protektif terhadap stunting, khususnya pada keluarga berpendapatan rendah.

Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.

Buka sumber
Praktik MPASI yang tidak optimal

Pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu, jumlah, atau mutunya menjadi faktor risiko yang dapat diperbaiki melalui edukasi keluarga.

Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.

Buka sumber
Riwayat penyakit infeksi

Infeksi berulang seperti diare dan ISPA menghambat penyerapan gizi. Termasuk faktor yang dapat diintervensi melalui perbaikan sanitasi, air bersih, dan imunisasi lengkap.

Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.

Buka sumber
Status ekonomi rumah tangga rendah

Salah satu variabel yang paling banyak muncul dalam penelitian di Indonesia. Rumah tangga miskin sulit memenuhi asupan gizi yang memadai secara berkelanjutan.

Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.

Buka sumber
Daftar Pustaka
  1. Ningsi, Gunawan, Sudikno, & Nurjanah (2025). Determinan Kejadian Stunting pada Anak di Bawah Lima Tahun di Provinsi Sulawesi Tengah. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 16(1).
  2. Sagita, S., & Siregar, K. N. (2022). Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review. MPPKI, 5(6), 654–661.

Sentimen Masyarakat

Dari 0 tanggapan

Belum ada kata. Awan kata muncul setelah ada komentar.

Komentar Masyarakat (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!